Hiburan

Dari Tempat Tidur Gips Lukisan Potret Diri Frida Kahlo Menembus Louvre

Frida Kahlo pelukis difabel asal Meksiko ubah rasa sakit jadi karya lukis fenomenal dunia.

KamiBijak.com, Hiburan – Dunia seni rupa internasional tidak akan pernah lepas dari sosok Magdalena Carmen Frida Kahlo y Calderón, atau yang lebih dikenal sebagai Frida Kahlo. Lahir pada 6 Juli 1907 di Coyoacán, Meksiko, Frida tumbuh menjadi salah satu ikon seni paling berpengaruh abad ke-20. Di balik karya-karyanya yang sarat akan warna tajam dan simbolisme emosional, Frida menyimpan perjalanan hidup yang penuh dengan perjuangan melawan kelumpuhan serta rasa sakit fisik kronis sepanjang usianya.

Pelukis ikonik asal Meksiko Frida Kahlo mengenakan pakaian khas daerah dan mahkota bunga yang menjadi ciri khas penampilannya semasa hidup. (Foto: BBC)

Ketahanan fisik Frida diuji sejak ia berusia enam tahun ketika ia terjangkit penyakit polio. Penyakit tersebut menyebabkan perkembangan kaki kanannya terganggu sehingga tampak lebih kecil dan membuatnya berjalan pincang. Guna menyamarkan kondisi tersebut, Frida kerap mengenakan rok panjang berwarna-warni yang kemudian menjadi gaya khas penampilannya.

Meski sempat memimpikan karier di bidang kedokteran, sebuah tragedi hebat pada 17 September 1925 mengubah jalan hidupnya secara drastis. Bus sekolah yang ditumpanginya mengalami kecelakaan beruntun yang mengakibatkan cedera parah pada tulang belakang, pinggul, serta organ reproduksinya. Tragedi tersebut memaksanya menjalani puluhan operasi bedah dan terbaring di atas tempat tidur gips selama berbulan-bulan.

Mengubah Rasa Sakit Menjadi Potret Diri yang Fenomenal

Masa pemulihan panjang yang membatasi ruang geraknya justru menjadi awal mula tergalinya bakat seni lukis dalam diri Frida. Di atas tempat tidur dengan bantuan cermin dan kanvas khusus buatan ibunya, ia mulai melukis potret dirinya sendiri untuk mengisi waktu dan mengekspresikan dinamika batinnya. Dari total 143 karya lukis yang ia hasilkan sepanjang hidupnya, sebanyak 55 di antaranya merupakan lukisan potret diri.

Aku melukis potret diri karena aku sering kali sendirian, dan karena akulah subjek yang paling aku kenal dengan baik,

ungkap Frida semasa hidupnya menjelaskan alasan di balik banyaknya lukisan potret diri yang ia ciptakan.

Lewat sapuan kuasnya, Frida secara jujur menggambarkan perjuangan fisiknya, pengalaman pahit akibat kecelakaan, hingga refleksi budaya rakyat Meksiko. Meskipun seniman surealis André Breton menyebut karyanya sebagai bagian dari aliran surealisme, Frida menegaskan bahwa ia tidak pernah melukiskan mimpi, melainkan realitas hidup yang ia jalani sendiri.

Pengakuan Internasional dan Warisan Seni yang Tak Terkikis

Karier melukis Frida terus berkembang pesat setelah ia mendapat dukungan dari suaminya yang juga pelukis mural ternama, Diego Rivera, serta saat berkunjung ke Amerika Serikat dan Prancis. Pada tahun 1939, Museum Louvre di Paris membeli salah satu lukisannya yang berjudul The Frame. Capaian bersejarah ini menjadikan Frida sebagai seniman Meksiko abad ke-20 pertama yang karyanya berhasil masuk ke dalam koleksi museum ternama dunia tersebut.

Keteguhan hatinya dalam berkarya mencapai puncaknya pada pameran tunggal pertamanya di Meksiko tahun 1953. Meskipun kondisi keretakan kesehatannya makin memburuk dan ia hanya bisa terbaring, Frida tetap menghadiri malam pembukaan pameran tersebut dengan diangkut menggunakan ambulans bersama tempat tidurnya.

Ikon Inklusivitas dan Keteladanan Bagi Dunia

Frida Kahlo wafat pada 13 Juli 1954 di usia 47 tahun. Kediaman keluarganya yang ikonik, La Casa Azul (Rumah Biru) di Coyoacán, kini diabadikan sebagai Museum Frida Kahlo yang menyimpan berbagai artefak sejarah dan lukisan peninggalannya.

Kisah hidup Frida tidak hanya menginspirasi dunia seni rupa, tetapi juga diangkat ke dalam berbagai buku biografi hingga film adaptasi Frida (2002) yang sukses meraih penghargaan Academy Awards. Kini, sosoknya diakui secara global tidak hanya sebagai maesta seni modern, melainkan juga sebagai simbol ketangguhan bagi gerakan inklusivitas, hak-hak perempuan, dan komunitas disabilitas di seluruh dunia.

Baca juga:

Muhammad Ade Irawan: Kisah Pianis Tunanetra Indonesia yang Mendobrak Panggung Jazz Dunia

Perjuangan hidup Frida Kahlo memberikan pelajaran berharga bahwa keterbatasan fisik tidak mampu membatasi kebebasan jiwa dan kedalaman seni seseorang untuk terus menginspirasi generasi ke generasi. (Fania/Magang)

Sumber: Liputan6

Fania