Membangun Hubungan Lebih Dekat: Cara Membuat Anak Merasa Didengar dan Dimengerti
Tips praktis agar anak merasa didengar dan dipahami, tingkatkan komunikasi emosional orangtua-anak.
KamiBijak.com, Hiburan - Komunikasi yang hangat dan penuh perhatian menjadi salah satu fondasi penting dalam hubungan orangtua dan anak. Namun, kenyataannya, banyak orang tua tanpa sadar hanya mendengar kata-kata anak secara sekilas, bukan benar-benar memahami maksud dan emosi di balik apa yang mereka sampaikan. Padahal kemampuan ini bukan hanya sekedar hal kecil, tetapi berpengaruh besar terhadap perkembangan emosional, rasa percaya diri, hingga kedekatan hubungan jangka panjang antara orangtua dan anak.
- Dengarkan dengan Hadir Sepenuhnya
Mendengarkan bukan hanya sekedar diam saat anak berbicara, tetapi memberikan perhatian sepenuhnya. Ketika anak mulai menunjukkan cerita, henti dulu aktivitas lain yang sedang dilakukan, arahkan kontak mata, dan gunakan bahasa tubuh yang menunjukkan bahwa kamu sungguh-sungguh hadir. Kontak mata, anggukan kecil, atau respons verbal yang sederhana membantu anak merasa bahwa apa yang mereka sampaikan itu penting.
- Tangkap Makna di Balik Kata-Kata
Anak biasanya belum bisa merumuskan perasaan mereka dengan kata-kata yang matang. Ketika ekspresi mereka terlihat bingung, marah, atau tampak enggan membuka pembicaraan, sering kali ada emosi yang lebih dalam yang belum mereka sampaikan secara langsung. Alih-alih menangkap ucapannya secara harfiah, cobalah untuk menyelami makna emosional di baliknya, misalnya rasa takut, cemas, atau kebingungan.
- Refleksikan Perasaan Mereka
Salah satu teknik yang efektif adalah dengan merefleksikan kembali emosi yang tampak. Misalnya, ketika anak berkata ia sedih karena tidak bisa bermain dengan teman, kamu bisa mengatakan, “Sepertinya kamu merasa sedih karena kecewa ya?”. Teknik ini membantu anak merasa dipahami, sekaligus membantu mereka mengaitkan label emosi dengan pengalaman mereka sendiri.
- Beri Ruang dan Waktu
Beberapa anak membutuhkan jeda sebelum benar-benar siap membuka dirinya. Jika anak terdiam atau terlihat menutup diri, jangan langsung memaksanya bercerita. Berikan janji tenang seperti, “Kalau kamu mau cerita nanti, Bunda/Ayah ada di sini ya”. Dengan cara ini, anak merasa ada pilihan dan merasa aman untuk melanjutkan percakapan ketika sudah siap.
- Hindari Memberi Nasihat Saat Emosi Belum Stabil
Saat anak masih berada dalam kondisi emosional, seperti marah atau sedih, otak mereka sedang sibuk memproses perasaan tersebut. Memberi nasihat atau penjelasan pada momen ini sering tidak efektif dan bisa membuat anak merasa tak didengar. Sebaliknya, fokuskan pada menemani mereka dan membantu menenangkan diri agar emosi lebih stabil.
- Validasi Emosi tanpa Mengoreksi
Validasi bukan berarti setuju, tetapi mengakui perasaan anak tanpa menilai benar atau salah. Ungkapan sederhana seperti “Wajar kok kamu merasa seperti itu” atau “Itu pasti membuatmu kesal ya” bisa membuat anak merasa perasaannya dihargai. Ketika anak merasa emosinya diterima, mereka lebih mampu mengontrol emosi dan mencari solusi bersama.
- Jadikan Komunikasi Sebagai Rutinitas
Hubungan yang kuat tidak dibangun dari percakapan besar sesekali, tetapi dari momen harian kecil yang bermakna. Sediakan waktu rutin untuk berbicara dari hati-ke-hati, misalnya sebelum tidur, saat makan bersama, atau saat pulang sekolah. Jadikan ini sebagai rutinitas agar anak merasa suara dan perasaannya selalu mendapat tempat di hati orangtua.
Komunikasi yang bermakna membutuhkan lebih dari sekadar kata, tetapi perhatian, empati, dan konsistensi. Dengan menerapkan trik-trik sederhana ini, orangtua dapat menciptakan ruang aman emosional bagi anak, meningkatkan kedekatan, dan membangun kepercayaan yang kuat. (Sindi/PKL)
Sumber : Fimela
Video Terbaru
MOST VIEWED
