KamiBijak.com, Berita - Perkembangan pemberdayaan penyandang disabilitas melalui berbagai inisiatif inklusif, salah satunya di bidang seni dan budaya. Program pelatihan yang menggabungkan keterampilan dan kemandirian ekonomi menjadi langkah nyata dalam membuka peluang yang lebih luas bagi kelompok ini.
Keindahan batik tidak hanya terletak pada corak dan warnanya, tetapi juga pada kisah perjuangan di balik setiap proses pembuatannya. Salah satu contoh hadir melalui Akademi Batik Tuli di Rumah Batik Palbatu, Jakarta, yang menjadi tempat belajar sekaligus harapan baru bagi teman Tuli untuk mencapai kemandirian ekonomi.
Program ini diprakarsai oleh Budi Dwi Haryanto, yang telah lama berkecimpung dalam dunia batik. Ia melihat adanya kesenjangan dalam akses pendidikan bagi lulusan sekolah luar biasa (SLB), terutama dalam mengembangkan keterampilan ke jenjang yang lebih profesional.
Baca juga:
Kisah Inspiratif Disabilitas: Keterbatasan yang Menghasilkan Motif Batik Cantik dan Unik
"Kami ingin menghadirkan ruang yang tidak hanya mengajarkan keterampilan membatik, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan kemandirian ekonomi bagi peserta," ujar Budi.
Akademi Batik Tuli tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelatihan biasa. Program ini disusun secara berkelanjutan dengan kurikulum tiga semester, di mana peserta mempelajari proses membatik secara menyeluruh, mulai dari perancangan motif, teknik pewarnaan, hingga tahap akhir penyelesaian. Pendekatan ini bertujuan meningkatkan kualitas karya serta nilai jual batik yang dihasilkan.
