Berita

Seminar Gender & Interseksionalitas: Buka Mata tentang Kesetaraan untuk Semua

Simak pentingnya pemahaman kesetaraan dan inklusivitas bagi pemberdayaan perempuan disabilitas Tuli Buta.

KamiBijak.com, Berita - Kesetaraan gender bukan sekadar isu akademis, tapi menyentuh kehidupan nyata banyak orang, termasuk perempuan dengan disabilitas. Inilah yang diangkat dalam Seminar Sosialisasi Pengenalan Gender & Interseksionalitas yang diselenggarakan oleh Divisi Pemberdayaan Perempuan Yayasan PELITA Indonesia pada Selasa, 30 September 2025, di Perpustakaan Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Acara yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 13.00 WIB ini memberikan ruang edukasi sekaligus refleksi tentang bagaimana konsep gender, feminisme, dan interseksionalitas bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk mewujudkan keadilan sosial.

Gender Bukan Hanya Soal Biologi

Dalam sesi yang dipandu Rina Prasarani, peserta diajak memahami perbedaan mendasar antara jenis kelamin (biologis) dan gender (peran sosial-budaya). Jenis kelamin ditentukan oleh organ tubuh, kromosom, serta hormon sejak lahir. Sementara gender dibentuk oleh lingkungan, keluarga, budaya, hingga media.

Lebih jauh, Rina membedah tiga konsep utama:

  1. Identitas Gender – bagaimana seseorang merasakan dirinya, apakah laki-laki, perempuan, atau lainnya.

  2. Peran Gender – aturan tak tertulis yang membentuk perilaku di masyarakat.

  3. Stereotip Gender – anggapan keliru yang sering melekat, misalnya “perempuan harus bisa memasak”.

Pemahaman ini penting agar masyarakat mampu membedakan fakta biologis dengan konstruksi sosial, serta menantang bias yang membatasi peran seseorang.

Feminisme dan Interseksionalitas: Untuk Semua, Bukan Segelintir

Seminar ini juga menegaskan bahwa feminisme adalah perjuangan kolektif demi kesetaraan dan keadilan, bukan sekadar “isu perempuan”. Dua prinsip utama feminisme adalah kesetaraan & pemberdayaan, serta interseksionalitas & inklusivitas.

Interseksionalitas dipahami sebagai cara pandang bahwa seseorang memiliki banyak identitas yang saling bertemu—gender, ras, kelas, disabilitas, agama, dan lainnya. Contohnya, pengalaman diskriminasi seorang perempuan disabilitas miskin jelas berbeda dengan perempuan tanpa disabilitas dari keluarga kaya.

Dengan kacamata ini, program kesetaraan gender bisa lebih adil dan responsif terhadap kebutuhan kelompok yang paling rentan.

Dari Teori ke Praktik: Tantangan dan Harapan

Seminar juga menyoroti hambatan nyata dalam penerapan prinsip ini, seperti:

  • Tokenisme, di mana kelompok rentan hanya dilibatkan sebagai simbol tanpa suara nyata.

  • Penolakan perubahan dari pihak yang masih terjebak pola pikir lama.

  • Keterbatasan sumber daya dalam menjalankan program inklusif.

Meski begitu, ada harapan besar. Dengan analisis gender yang mendalam, partisipasi inklusif, serta layanan yang responsif terhadap kebutuhan tiap identitas, kesetaraan sejati dapat dicapai.