Berita

Tak Ramah Disabilitas, Pramono Bongkar JPO Lama Rasuna Said

Pramono Anung tegaskan JPO lama Rasuna Said dibongkar karena tak ramah disabilitas dan tak terakses.

KamiBijak.com, Berita – JPO Rasuna Said lama yang terletak di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan secara resmi bakal dibongkar oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengambil keputusan tegas tersebut usai meninjau langsung kondisi dua Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang sempat viral di media sosial dengan sebutan julukan fasilitas "Love and Hate" karena lokasinya berdampingan namun tidak saling terhubung. Pembongkaran infrastruktur lama ini ditargetkan dapat rampung sepenuhnya paling lambat pada Oktober 2026 mendatang setelah Pemprov DKI Jakarta menyelesaikan tahapan penataan administrasi pencatatan aset di Badan Pengelolaan Aset Daerah (BPAD) DKI Jakarta.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menilai bahwa keberadaan dua jembatan penyeberangan yang berdiri sejajar tersebut merupakan bentuk pemborosan ruang publik serta ketidaksepahaman tata kelola kebijakan pembangunan pada masa lampau. Pramono Anung secara terbuka menyoroti kelemahan koordinasi pimpinan masa lalu yang memicu hadirnya dua fasilitas fisik dengan kegunaan serupa di lokasi yang bersisian.

Tetapi setelah saya lihat sendiri, ini menunjukkan bahwa dulu dalam membuat kebijakan seringkali seperti yang saya katakan, ego pemimpinnya itu tidak dikomunikasikan secara baik,

tegas Pramono Anung saat menjelaskan akar masalah lahirnya tumpang tindih infrastruktur jalan di kawasan bisnis strategis tersebut.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bersama jajaran Dinas Bina Marga meninjau langsung fasilitas JPO di kawasan Jalan HR Rasuna Said. (Foto: Dok. Pemprov DKI Jakarta)

Alasan utama pembongkaran JPO eksisting yang telah dibangun sejak dekade 1990-an tersebut didasari oleh persoalan kelayakan aksesibilitas yang dinilai betul-betul tidak ramah bagi warga penyandang disabilitas. Selain belum dilengkapi dengan sarana lift penunjang, terdapat pula selisih perbedaan ketinggian struktur yang cukup signifikan jika jembatan lama tersebut dipaksakan untuk dihubungkan dengan JPO integrasi LRT Jabodebek.

Alasannya, yang satu JPO akan kita bongkar adalah karena yang satu itu betul-betul tidak ramah terhadap disabilitas. Kalau kita sambungkan, ada beda tinggi yang cukup tinggi sehingga itu menyebabkan masyarakat yang menyandang disabilitas tidak bisa memanfaatkan lokasi atau tempat tersebut.

Pramono Anung menuturkan,

Proses pelaksanaan pembongkaran fisik JPO lama di lapangan dipastikan tidak akan mengganggu kelancaran arus lalu lintas para pengguna jalan di sepanjang koridor Jalan HR Rasuna Said. Dinas Bina Marga DKI Jakarta bersama instansi terkait akan menerapkan metode teknis pengerjaan cermat yang terbukti sukses saat melakukan pemotongan tiang monorel beberapa waktu lalu. Langkah ini diambil untuk memastikan agar seluruh kegiatan mobilitas masyarakat pengguna transportasi darat di wilayah Jakarta Selatan tetap dapat berjalan dengan aman, nyaman, dan lancar selama masa pengerjaan berlangsung.

Baca juga:

Kini Ramah Disabilitas! Pramono Resmikan Revitalisasi JPO MH Thamrin-Sarinah

Setelah proses pembongkaran rampung sepenuhnya, Pemprov DKI Jakarta akan memfokuskan perawatan berkala pada satu JPO baru yang terintegrasi langsung dengan Stasiun LRT Jabodebek dan Halte Transjakarta. Pihak pemerintah daerah berjanji akan rutin melakukan pemeriksaan intensif terhadap keandalan fasilitas pendukung seperti lift penyeberangan guna memastikan kemudahan mobilitas seluruh warga, termasuk kelompok difabel dan lansia. Kebijakan perbaikan tata ruang ini diharapkan dapat mengakhiri tumpang tindih fungsi fasilitas publik di kawasan ibu kota demi mengutamakan kenyamanan serta kesetaraan aksesibilitas bagi seluruh lapisan masyarakat. (Fania/Magang)

Sumber: IDN Times

Fania