Kuliner

Matcha: Dari Ritual Sakral Jepang hingga Tren Global yang Diperdebatkan

Di balik popularitas globalnya, terdapat tradisi sakral Jepang yang sarat filosofi hidup dan spiritualitas.

KamiBijak.com, Kuliner - Matcha, bubuk teh hijau khas Jepang, kini menjadi fenomena global yang digemari banyak orang, termasuk di Indonesia. Minuman hijau cerah ini menarik perhatian berkat rasa unik, manfaat kesehatan, hingga tampilannya yang estetik di media sosial. Namun, di balik popularitasnya, muncul pertanyaan menarik: apakah tren global ini justru menyalahi akar budaya Jepang?

Di negeri asalnya, matcha lebih dari sekadar minuman. Ia adalah bagian penting dari Chanoyu, upacara minum teh yang sarat makna spiritual. Tradisi ini berakar pada ajaran Zen Buddhisme abad ke-12, ketika biksu menggunakan matcha untuk mendukung meditasi panjang. Melalui Chanoyu, teh menjadi simbol keharmonisan, rasa hormat, kesucian, dan ketenangan.

Setiap gerakan dalam ritual dilakukan penuh kesadaran. Matcha disajikan tanpa tambahan gula atau susu, sehingga penikmat dapat merasakan rasa asli yang earthy dan sedikit pahit. Bukan hanya rasa yang penting, tetapi juga filosofi: menghargai alam, momen, dan hubungan antar manusia.