KamiBijak.com, Berita – Membuat film tentang disabilitas tidak bisa lagi dilakukan secara sembarangan. Industri perfilman nasional kini dituntut untuk menerapkan konsep inklusif secara menyeluruh, mulai dari tahapan pra-produksi hingga penayangan di bioskop.
Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam agenda "Pekan Diskusi Film Indonesia" yang menjadi bagian dari rangkaian Kreatif Merdeka Carnival 2026. Acara bertema Film yang Inklusi di Dalam Industri Film ini diselenggarakan oleh PT Avatara Lintas Media bersama Produksi Film Negara (PFN) di Gedung PFN Heritage, Jakarta Timur, pada Selasa, 11 Agustus 2026.
5 Pilar Utama Film Inklusif Versi Budi Sumarno
Founder Inklusi Film Indonesia, Budi Sumarno, menegaskan bahwa film yang benar-benar inklusif bukan hanya sekadar memajang aktor disabilitas di layar bioskop. Menurutnya, ada lima rantai produksi yang wajib dipenuhi (inclusive story, talent, production, distribution, dan audience).
Film inklusif itu bukan hanya tentang melibatkan aktor disabilitas menjadi pemain, tapi ketika bicara inklusif, kita pembuat film harus mempersiapkan dari ide cerita, produksi, paska produksi, dan distribusi, semuanya harus inklusif,
ujar Budi di Gedung PFN Heritage, Jakarta Timur.
Aksesibilitas tersebut harus dirancang sejak awal pembuatan naskah. Misalnya, menyiapkan Audio Description (AD) bagi Teman Netra, penyediaan Closed Captioning (CC) untuk Teman Tuli, hingga memastikan tempat pemutaran bioskop memiliki jalur yang aman bagi Teman Daksa dan pengguna kursi roda.
Budi juga membagikan pesan penting bagi teman-teman disabilitas yang ingin merambah dunia seni peran maupun kru film.
Buat teman-teman disabilitas, jangan 'jual' tentang kedisabilitasannya, tapi tentang kemampuan kalian. Kalau ingin jadi aktor, ya harus belajar akting, gestur, dan ekspresi. Kalau jadi kru atau penulis skenario, harus belajar ilmunya, lalu bergabung dengan komunitas film dan rutin latihan,
tegas Budi.
