Hiburan

Debut Film, Hanna Aretha Wakili Teman Tuli di Layar Lebar

Hanna Aretha jalani debut di film Empat Musim Pertiwi untuk mewakili suara Teman Tuli.

KamiBijak.com, Hiburan – Aktris Hanna Aretha resmi menandai debut akting layar lebarnya melalui film terbaru berjudul Empat Musim Pertiwi (Four Seasons in Java) karya sutradara ternama Kamila Andini. Kehadirannya dalam dunia seni peran skala besar ini membuktikan kapasitas serta ruang berekspresi bagi kelompok disabilitas, khususnya Teman Tuli, di kancah perfilman nasional yang kian inklusif.

Dalam karya sinematik produksi Forka Films yang diproduseri oleh Ifa Isfansyah tersebut, Hanna mendapatkan kepercayaan untuk membawakan peran kunci sebagai tokoh Raras. Karakter Raras digambarkan sebagai seorang remaja Tuli yang tinggal di kawasan lereng Gunung Bromo dan tengah berjuang mencari ruang untuk dipahami. Di dalam alur cerita, perjalanan emosional Raras turut menjadi cerminan dari masa lalu karakter utama bernama Pertiwi, yang diperankan oleh aktris kenamaan Putri Marino.

Hanna Aretha bersama Christine Hakim dan para pemeran saat peluncuran trailer film Empat Musim Pertiwi. (Foto: ANTARA)

Mewakili Suara dan Emosi Teman Tuli

Sebelum merambah ke industri layar lebar, Hanna sebelumnya telah aktif mengeksplorasi bakat seni perannya sebagai aktor di panggung pertunjukan drama. Ia mengaku sempat merasa tidak percaya ketika dipilih langsung oleh Kamila Andini untuk memerankan sosok Raras. Melalui kesempatan emas ini, Hanna mengungkapkan rasa bangganya karena dapat menjadi representasi nyata bagi Teman Tuli di hadapan penonton yang lebih luas.

Muncul di film layar lebar, debut, menjadi representatif juga untuk teman-teman Tuli. Kalau misalnya aku sebagai Tuli, kita semua manusia memiliki kemampuan yang sama, pengalaman yang sama juga. Mungkin kita juga memiliki emosi yang masing-masing dan aku senang bisa merepresentatifkan bagaimana Teman Tuli itu sendiri. Dan menurut aku kata arti pulang itu keren. Terima kasih,

ujar Hanna Aretha melalui penerjemah bahasa isyarat saat peluncuran cuplikan film di Jakarta.

Penggunaan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) yang dipadukan dengan ekspresi wajah serta bahasa tubuh yang kuat menjadi media utama Hanna untuk menyampaikan kedalaman makna dan perasaan tokoh Raras. Proses produksi di set lokasi Bromo juga terasa hangat berkat kolaborasi erat bersama jajaran pemain lain, seperti Maryam Supraba yang berperan sebagai ibunya. Suasana kekeluargaan di lokasi syuting membuat keterlibatan ini terasa begitu emosional dan berkesan bagi Hanna.